komiksantri

komikrahman

Advertisements

Amar Ma’ruf itu sepasang dengan Nahy Munkar

Amar ma’ruf dan Nahy munkar itu satu paket.

Amar Ma’ruf mesti punya kesan santun yang kuat.
Sedangkan Nahy munkar harus tegas, kokoh dan substansial.

Amar ma’ruf, karena santunnya, jauh lebih mudah dan sopan. Lebih manusiawi dan toleran. Banyak diantara Cerdik cendikia kita, yang mengambil peran ini. Banyak sekali malah. Amar ma’ruf inilah yang sering “diplesetkan” hamba liberalisme dan diunyer unyer dalilnya untuk topeng toleransi bablas.

Sedangkan Nahy munkar, adalah tindak tegas, penertiban, dan pemberantasan maksiat. Nahy munkar ini peran yang tidak semua muslim mau mengambilnya, padahal harus. Dan tidak semua Cerdik cendikia mau terang terangan, padahal wajib. Lihat saja FPI yang Nahy munkarnya kuat sekali. Cela, caci, maki, selalu menyudutkan mereka. Padahal mereka benar. Sangat benar.

Karena Amar ma’ruf dan Nahy munkar adalah sepasang.

Ibarat sepatu, mana ada sepatu yang cuma sebelah. Dan Ibarat Tangan, Tangan yang tidak cacat adalah tangan yang berfungsi keduanya.

Karena keduanya adalah representasi cinta ilahi. Amar ma’ruf adalah mengelus dengan lembut jiwa yang gamang. Dan Nahy munkar ialah menarik kuat kuat jiwa yang nyaris masuk ke jurang. Menukar pola keduanya hanya akan berakibat hancur dan binasa.

Cara Mereka menghancurkan Islam

Ibu Guru berkerudung rapi tampak bersemangat di depan kelas sedang mendidik murid-muridnya dalam pendidikan Syari’at Islam. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Ibu Guru berkata, "Saya punya permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus.
Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah "Kapur!", jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah "Penghapus!" Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Ibu Guru mengangkat silih berganti antara tangan kanan dan tangan kirinya, kian lama kian cepat.

Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata, "Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah "Penghapus!", jika saya angkat penghapus, maka katakanlah "Kapur!". Dan permainan diulang kembali.
Maka pada mulanya murid-murid itu keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya.
"Anak-anak, begitulah ummat Islam. Awalnya kalian jelas dapat membedakan yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Namun kemudian, musuh musuh ummat Islam berupaya melalui berbagai cara, untuk menukarkan yang haq itu menjadi bathil, dan sebaliknya.
Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kalian menerima hal tersebut, tetapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai dapat mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika."
"Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, sex sebelum nikah menjadi suatu hiburan dan trend, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup, korupsi menjadi kebanggaan dan lain lain. Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disedari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?" tanya Guru kepada murid-muridnya. "Paham Bu Guru"

"Baik permainan kedua," Ibu Guru melanjutkan. "Ditangan Ibu skrg ini ada satu buah Al-Qur’an, Bu Guru akan meletakkannya di tengah karpet. Quran itu "dijaga" sekelilingnya oleh ummat yang dimisalkan karpet. Sekarang anak-anak berdiri di luar karpet.
Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur’an yang ada di tengah dan ditukar dengan buku lain, tanpa memijak karpet?" Murid-muridnya berpikir. Ada yang mencoba alternatif dengan tongkat, dan lain-lain, tetapi tak ada yang berhasil.

Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur’an ditukarnya dengan buku filsafat materialisme. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet.
"Murid-murid, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya. Musuh-musuh Islam tidak akan memijak-mijak kalian dengan terang-terangan. Karena tentu kalian akan menolaknya mentah-mentah. Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tetapi mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar. Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina pundasi yang kuat. Begitulah ummat Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau fondasinya dahulu. Lebih mudah hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dahulu, kursi dipindahkan dahulu, lemari dikeluarkan dahulu satu persatu, baru rumah dihancurkan…"

"Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kalian. Mereka tidak akan menghantam terang-terangan, tetapi ia akan perlahan-lahan meletihkan kalian. Mulai dari perangai, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga meskipun kalian itu Muslim, tetapi kalian telah meninggalkan Syari’at Islam sedikit demi sedikit. Dan itulah yang mereka inginkan."
"Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Bu Guru?" tanya mereka. Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tetapi sekarang tidak lagi. Begitulah ummat Islam. Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Tetapi kalau diserang serentak terang-terangan, baru mereka akan sadar, lalu mereka bangkit serentak. Selesailah pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdo’a dahulu sebelum pulang…"
Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya.
***
Ini semua adalah fenomena Ghazwu lFikri (perang pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh-musuh Islam. Allah berfirman dalam surat At Taubah yang artinya:
"Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, sedang Allah tidak mau selain menyempurnakan cahayaNya, sekalipun orang-orang kafir itu benci akan hal itu."(QS. At Taubah :32).
Musuh-musuh Islam berupaya dengan kata-kata yang membius ummat Islam untuk merusak aqidah ummat umumnya, khususnya generasi muda Muslim. Kata-kata membius itu disuntikkan sedikit demi sedikit melalui mas media, grafika dan elektronika, tulisan-tulisan dan talk show, hingga tak terasa.
Begitulah sikap musuh-musuh Islam. Lalu, bagaimana sikap kita…?

On February 6, 2013 9:27:37 PM PST, Fikri Hakim Linux Kersem wrote:

try

installing wordpress, so get the simulation.

you don’t have a personal web yet? or you would like to have a web but do not know how to create it ? wordpress can be your answer for solving this problem

INSTALLATION

first step to install your wordpress is you have actually installed XAMPP or LAMPP on your PC. XAMPP or LAMPP is an application that make your PC as an offline server. it is helping you to simulate as like as you are online and connected with the internet, skip this step if you already installed it, or another server application.

next, download  the wordpress.zip in wordpress.org. Dont worry, it is free, and size is actually just in a little space, it is about 2 – 3 mb only. the newest of wordpress.zip (till i have already write to this point) is wordpress 3.0.0

then, extract your wordpress.zip to directory C:\xampp\htdocs\wordpress. if you don’t have a wordpress folder in that, create it first, so extract your wordpress there.

after all. open your web browser, and type on URL bar “http://localhost/wordpress”, you will see the wordpress installation page on your browser. follow the steps as like as you are installing the programs in windows (next and next). and if you are already finished all steps, type in your URL bar “http://localhost/wordpress/wp-admin”, the browser will display you the log in form. fill in the form with your account name and password, then begin your wordpress.

have a little fun with your wordpress !